Sunday, March 22, 2015

Kanker (Ca) Serviks


Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di sini (http://www.natinbali.blogspot.com/2015/01/natinbalis-life-quick-update.html), Natal 25 Desember 2014 kemarin mama saya menjalani operasi pengangkatan rahim akibat dari Kanker Serviks yang di deritanya.. Di sini saya mau berbagi pengalaman kami, yang tidak mudah tetapi berkat Tuhan, semua sudah terlewati..

Mama saya pertama kali di diagnosa menderita Kanker Serviks (Leher Rahim) sekitar bulan September.. Keluarga saya, terutama mama saya sudah pasti shock berat.. Awalnya tidak ada gejala apapun yang dirasakan oleh mama saya.. Kebetulan saat itu di gereja kami diadakan pemeriksaan gratis termasuk pemeriksaan pap smear.. Mama saya dari dulu tidak pernah menjalani pemeriksaan seperti ini dan entah kenapa kali ini mama saya tertarik untuk mengikuti pemeriksaan.. Setelah pemeriksaan, dokter yang memeriksa mama saya mengatakan bahwa di leher rahim mama saya ada benjolan yang kemungkinan adalah kanker, walaupun harus melewati pemeriksaan di laboratorium terlebih dahulu..

Mama saya akhirnya pergi ke RSAD Udayana, di sana mama saya menjalani pemeriksaan, dan menurut dokter di sana, kemungkinan mama saya terkena Kanker Serviks stadium awal.. Setelah itu, kita masih harus menunggu hasil tes laboratorium patologi untuk mengetahui secara pasti apakah sel atau benjolan itu benar-benar kanker atau tumor ganas..

Hasil tes patologi keluar setelah menunggu hampir 2 minggu.. Hasilnya adalah mama saya menderita Kanker Serviks Stadium 1B dengan sel kanker yang berukuran sekitar 3cm.. Dan menurut dokter, jalan terbaik adalah operasi pengangkatan rahim.. Sebenarnya ada cara lain seperti Kemoterapi & Radiologi, tapi mengingat umur mama saya yang sudah di atas 50 tahun, maka operasi pengangkatan rahim adalah yang terbaik.. Dan karena masih stadium awal, nanti setelah operasi akan dilihat apakah memerlukan kemoterapi atau tidak..

Perjuangan selanjutnya adalah mencari dokter dan rumah sakit untuk menjalani operasi pengangkatan rahim.. Mama saya dari awal menggunakan BPJS, sehingga oleh RSAD mama saya dirujuk ke RSUP Sanglah.. Nah di sini, masalah mulai muncul.. Tanpa bermaksud menyalahkan pihak manapun, yang jelas mama saya tidak kunjung mendapatkan jadwal operasi.. Ditambah lagi, proses menuju operasi yang panjang dan berbelit.. Salah satu contohnya, mama saya sudah mendaftar dan dikatakan akan di operasi tanggal sekian.. 2 minggu sebelum operasi, mama saya mulai mempersiapkan diri termasuk menjalani pemeriksaan pra-operasi seperti tes laboratorium, anastesi, dan sebagainya.. Tapi nyatanya, beberapa hari sebelum tanggal yang ditentukan, pihak rumah sakit membatalkan operasi tersebut dengan alasan yang tidak masuk akal.. Dan ini tidak terjadi 1 kali, melainkan 3 kali.. 

Ditunda berulang kali jelas membuat mama saya semakin down.. Belum lagi capeknya yang harus bolak balik ke rumah sakit.. Kalau tidak mempertimbangkan biaya dan waktu, mungkin mama saya sudah berangkat ke Penang atau Melaka.. Tapi saya bersyukur mama saya memiliki teman-teman yang peduli dan berbaik hati membantu mama saya.. Mendengar mama saya tidak kunjung di operasi, mereka akhirnya mengumpulkan dana untuk mama saya supaya bisa di operasi di rumah sakit swasta yang biayanya memang lebih mahal dibandingkan di rumah sakit umum..

Saya dan mama saya akhirnya bertanya kepada dokter yang menangani mama saya, dr. I Nyoman Gede Budiana, Sp.OG (K).. Kebetulan mama saya memang harus terus kontrol ke dokter.. Kami akhirnya meminta dr. Budiana untuk mengoperasi mama saya di luar RSUP Sanglah.. Dokter memberikan pilihan antara BROS dan RS Surya Husadha.. Akhirnya malam itu juga, saya dan mama saya pergi ke RS Surya Husadha meminta rincian perkiraan biaya untuk operasi pengangkatan rahim, dimana jumlah biayanya untuk operasi saja mencapai angka 40juta.. 




Dengan pertimbangan semakin lama ditunda kemungkinan kanker akan semakin menyebar, akhirnya kami memutuskan mama saya dioperasi di RS Surya Husadha.. Dokter menyarankan jadwal operasi mama saya adalah tanggal 25 Desember 2014.. Awalnya saya tidak setuju, karena itu hari Natal.. Tetapi mengingat jadwal dokter yang padat, akhirnya kami menyetujui tanggal tersebut..

Mama saya masuk ke rumah sakit pada tanggal 24 Desember 2014 setelah paginya menjalani serangkaian test.. Kami beruntung mendapatkan kamar kelas 1 yang menurut saya tarifnya masih terjangkau dan cukup bersih serta nyaman untuk ukuran rumah sakit.. Tanggal 25 Desember, di saat orang lain mengikuti Misa Natal di Gereja, mama saya sudah harus mulai mempersiapkan diri dan sekitar pukul 8 mama saya dibawa ke ruang operasi.. Operasi dijadwalkan dimulai pukul 9 dengan lama operasi sekitar 3-4 jam.. Saat-saat tersebut adalah saat yang paling menegangkan dalam hidup saya.. Rasanya lebih tegang dan takut dibandingkan ujian skripsi atau dibandingkan saya sendiri yang harus masuk ke ruang operasi.. Menit demi menit berlalu, dan saya hanya bisa berdoa dan berharap operasi nya berjalan dengan lancar.. 

Jam 12 sudah terlewati, tapi tidak ada tanda-tanda operasi mama saya sudah selesai.. Sekitar pukul 14.00, saya  yang waktu itu lagi sendirian di kamar, dipanggil lewat speaker yang kira-kira bunyinya seperti ini, "keluarga dari ibu xxx diharap segera ke ruang operasi".. Masalahnya papa saya lagi keluar untuk beli makan.. Sedangkan ketika saya menghadap ke ruang operasi, dokter menghendaki untuk berbicara langsung dengan papa saya..

Akhirnya saya langsung menelpon papa saya, dan berbagai dugaan langsung muncul di benak saya.. Di situ saya benar-benar panik dan tidak tahu harus berbuat apa.. Papa saya akhirnya datang, dan masuk ke ruang operasi, 15 menit kemudian papa saya keluar.. Ternyata dokter hanya menunjukkan rahim, kelenjar getah bening, dan teman-teman nya yang telah berhasil di angkat.. Hal ini mengindikasikan bahwa operasi mama saya sudah sukses dan 1 jam lagi mama saya sudah boleh kembali ke kamarnya.. Tiada kata yang dapat menggambarkan betapa bersyukurnya saya saat itu..

1 jam kemudian mama saya akhirnya dibawa kembali ke kamar.. Seluruh tubuh mama saya terasa dingin dan mama saya belum dapat bergerak dan berbicara sama sekali.. Proses pemulihan pasca operasi ternyata tidak semudah yang kami pikirkan.. Mama saya harus melewati masa-masa tidak boleh minum dan makan sama sekali, kesakitan terus menerus, dan sebagainya.. Target kami adalah pulang pada tanggal 29 Desember, tetapi ternyata dokter masih belum mengijinkan mama saya pulang.. Tanggal 31 Desember siang, dokter akhirnya mengijinkan mama saya pulang.. Dokter juga mengabarkan berita yang paling indah sebagai kado tahun baru untuk kami.. Hasil patologi atau laboratorium menunjukkan bahwa mama saya sudah terbebas dari kanker atau dalam artian kanker nya belum menyebar sehingga mama saya tidak perlu kemoterapi.. 

Pulang ke rumah, perjuangan kami ternyata belum selesai.. Mama saya masih terus kesakitan dan tidak ada nafsu makan.. Mama semakin hari semakin kurus, akibat tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.. Beruntung setelah 1 minggu, nafsu makan nya kembali membaik.. Memasuki bulan ketiga, saat ini Mama saya sudah bisa beraktivitas seperti biasa walapun jadi gampang capek dan belum bisa mengangkat beban berat.. Selain itu mama saya juga harus tetap periksa atau kontrol ke dokter setiap 2-3 bulan sekali..

Pengalaman ini memang bukan sesuatu yang pernah mama saya dan keluarga saya inginkan untuk terjadi.. Tapi dari hal ini kita semakin ditempa untuk menjadi keluarga yang semakin kuat dan semakin sadar bahwa kesehatan itu mahal harganya.. Saya sendiri juga lebih mengerti bagaimana takutnya kehilangan orang yang kita cintai.. Hal ini membuat saya lebih menghargai kehadiran mereka dan selalu ingin memberikan yang terbaik untuk mereka..

Oh ya, begitu mama saya di diagnosis terkena kanker serviks, saya dan adik saya langsung di vaksinasi HPV.. Vaksinasi HPV ini adalah salah satu cara pencegahan kanker serviks.. Saya baru tahu kalau setiap 2 menit 1 wanita di dunia ini meninggal karena kanker serviks.. Saya bahkan baru tahu kalau ada vaksinasi nya.. Vaksinasi HPV ini diberikan 3 kali, yaitu dalam jangka waktu 0,1, dan 6 bulan.. Akhir Maret ini, saya akan di vaksinasi lagi untuk tahap yang terakhir, yaitu 6 bulan setelah suntikan vaksinasi yang pertama kali.. Di suntiknya ga sakit kok, walaupun efeknya bisa berbeda-beda untuk setiap orang.. Kalau saya paling hanya pegal-pegal di tangan yang di suntik.. Biayanya sih bervariasi antara 2 sampai 2.5 juta untuk 3 kali suntik.. 






Saya seringkali menyebut semua ini sebagai God's miracle.. Mulai dari di diagnosis kanker, biaya operasi dibantu teman-teman mama saya, sampai akhirnya terbebas dari sel kanker sama sekali.. Buat sebagian orang, mungkin hal ini sesuatu yang impossible.. Tapi buat orang-orang yang percaya Tuhan, selama kita berharap dan meminta pada Tuhan, Tuhan pasti bukakan jalan dan menjadikan segalanya yang tidak mungkin menjadi mungkin.. Buat orang-orang yang lagi berjuang melawan kanker atau penyakit berat lainnya, jangan pernah menyerah ya.. Serahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan, karena Dia tahu apa yang terbaik untuk kita.. 



~~~ All Things Are Possible With God - Mark 10 : 27 ~~~






7 comments:

  1. terimakasih banyak, sangat membantu sekali informasinya...

    ReplyDelete
  2. Selain itu, perlu diketahui juga pencegahan kanker serviks sedari dini supaya terhindar dari penyakit pembunuh wanita nomor satu di dunia ini.

    ReplyDelete
  3. Terharu bacanya... Tp sepengetahuan saya, kanker serviks ini menyerang wanita yang sudah menikah jika masih belum menikah maka tidak diwajibkan untuk vaksin. Tp anyway tidak apa juga jika sudah dilakukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setahu saya untuk vaksin kanker serviks / HPV malah disarankan diberikan di usia belasan atau remaja.. Bahkan sekarang sudah mulai diberikan dan disosialisasikan di sekolah2..

      Delete
  4. Mba.. mau nanya. Mana saya udah di papsmear. Dan diangkatnya ca serviks 1 a. Lalu di rujuk ke sangla.sampai disanglah di biopsi untuk menegakan diagnosa. Jika diagnosa nya betul bisakah langsung dioperasi dengan biaya sendiri?? Kayaknya yg biopsi mama di poli kebidanan bukan dokter spesialis. Tapi dokter yg menempuh pendidikan spesialis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo di Sanglah memang yg menangani dokter2 muda yg sedang menempuh pend. spesialis..
      Kmrn mama saya di Sanglah di pending trus atau mgkn krn pakai bpjs ya.. hehe.. tergantung dokternya Mba.. kmrn mama sy dipegang dokter budiana.. tp yg priksa2 di sanglah bkn dokternya lsg.. dan ketika batal pakai bpjs, dokternya kebetulan praktek di bros dan surya husadha.. jd kami pilih di surya husadha.. langsung dpt jadwal operasi, ga ribet spt di sanglah.. hehe..

      Delete